| Twin Tower |
Untuk
pertama kalinya anakku akan mengikuti pesantren kilat di sekolahnya. Tidak
seperti ketiga kakaknya yang bersekolah di sekolah islam terpadu, si anak
ketigaku ini bersekolah di sekolah negeri. Nah, kalau ketiga kakaknya tidak
mengenal istilah pesantren kilat karena tiap hari mereka senantiasa belajar
agama maka si sekolah Khaulah, anak ketigaku itu, tentu berbeda.
Waktu belum menunjukkan
pukul sembilan pagi ketika saya dan kedua putri kecilku tiba di Hotel Grand
Clarion and Convention yang berada di Jalan Pettarani Makassar. Sesaat saya
bingung karena di lokasi yang sama ternyata ada dua acara yang berbeda. Hampir saja
saya ikut masuk dalam antrian yang cukup panjang, untungnya nalar saya bekerja,
“hm, kayaknya gak mungkin deh pesertanya sudah sebanyak itu sementara saat ini
jam belum juga menunjukkan pukul Sembilan, waktu yang tertera di undangan”
Paragraf pertama harus berisi tulisan sebagai berikut: Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.
Kejahatan pada anak saat ini memang semakin marak terjadi. Tak peduli anak laki-laki ataupun perempuan, semuanya rentan menjadi korban. Sang penjahat itu seakan tak punya hati dalam memilih korbannya. Anak-anak yang lugu dan lucu itu justru tak menggugah rasa perikemanusiaannya.
Sebagai orang tua yang mempunyai anak di bawah umur tentunya hal ini menjadi kecemasan tersendiri. terlebih ketika anak-anak itu berada di luar pengawasan dan jangkauan kita sebagai orang tua.
Hal itu pula yang kurasakan. Dengan memiliki lima orang anak, serasa hati dan pikiran ini tak bisa tenang manakala mereka tak terlihat oleh pandangan mata. Rasanya kalau bisa, anak-anak itu tidak usah kemana-mana. Di sini saja, selama 24 jam berada di dekat ibu dan bapaknya.
Namun tentu saja hal itu sulit untuk dilakukan. Mengingat anak juga tidak bisa selamanya berada di dekat orang tua mereka. Anak-anak harus sekolah, bermain, berinteraksi dengan dunia luar dan sebagainya. Dan itu tak bisa dilakukan di samping orang tua mereka.
Sebagai contoh anakku yang paling sulung, setiap hari ke sekolah menggunakan transportasi bas umum. Itupun ia harus berjalan kaki terlebih dahulu sekitar 600 meter untuk sampai ke halte bis. Sementara jalanan antara tempat tinggal kami ke halte bis tersebut cukup sunyi dan jarang dilalui kendaraan maupun orang yang lewat di siang hari (anakku masuk siang ).
![]() |
| Jumpa Mail and Mei Mei di pintu masuk |
Pagi ini kami sepakat untuk mengunjungi
Karnival Upin Ipin yang diadakan di Stadium Titiwangsa, Kuala Lumpur.
Sebenarnya ada kekhawatiran tersendiri karena berdasarkan pengalaman yang lalu,
kami selalu nyasar bila telah berada di Kuala Lumpur. Padahal sudah
berkali-kali ke sana.
Kota masa depan, demikian konsep rancangan pembangunan Putrajaya, ibukota administrasi Malaysia yang baru. Kota kecil ini memang sangat indah. Perpaduan antara kemegahan dan keasrian menjadikan Putrajaya sebagai salah satu tujuan utama wisata di Malaysia. Berjarak sekitar 25 km dari arah selatan Kuala Lumpur, kota ini tampak megah tanpa meninggalkan ciri melayu yang identik dengan islam.

