Balada Bus Saptco, Si Merah yang Setia Mengantar Jemaah ke Masjidil Haram
![]() |
Sumber Gambar: https://makkah-madinah.accor.com/tag/makkah-travel/ |
Banyak sekali hal menarik yang saya alami ketika melaksanakan umroh ramadhan 1443 H yang lalu. Banyak sekali hal-hal yang terjadi, yang sayang untuk dilewatkan sehingga tangan ini pun tergelitik untuk menuliskan kisah-kisahnya.
Satu hal menarik yang ingin saya kisahkan kali ini adalah tentang bus. Mengapa bus? Begini ceritanya ....
Saat umroh dan berada di Makkah, jemaah kami ditempatkan di 3 lokasi. Satu kelompok berada di Hotel Al Jawhara Tower, tempat kelompokku menginap dan dua kelompok lagi di hotel yang berbeda, tetapi tetap berdekatan.
Baca Juga: Pengalaman Mencari Raudhah Saat Umroh Ramadhan 1443/2022
Keputusan ini diambil karena saat itu Haramain tengah padat merayap. Kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia seolah tumplek di sana. Tak heran, hotel dan penginapan semuanya penuh. Itulah mengapa, jemaah kami akhirnya dibagi-bagi karena tidak ada hotel yang menyisakan kamar sesuai dengan jumlah kami. Masya Allah.
![]() |
Al Jawhara Hotel |
Maklum, selain karena Ramadhan termasuk waktu-waktu terpadat jemaah umroh di Haramain yang disebabkan keutamaannya yang sangat besar, Ramadhan kemarin juga merupakan untuk pertama kalinya jemaah bisa melaksanakan umroh dengan lebih leluasa setelah terjadinya pembatasan akibat pandemi Covid-19 sejak 2 tahun lalu.
Nah, sebagaimana yang diberitahukan saat manasik umroh, lokasi hotel kami berjarak sekitar 2 km (tapi barusan saya ngecek di Map, tertera 4,6 km) dari Masjidil Haram. Untuk ke sana, kami harus menggunakan bus Saptco, bus yang memang disediakan untuk mengantar jemaah umroh pulang pergi dari hotel ke Haram atau sebaliknya. Bus ini mudah dikenali karena warna khasnya, merah. Kebetulan, hotel kami berada tepat di depan halte bus dan juga kebetulan kamarku menghadap ke arah halte tersebut.
Mulanya, pihak travel memberitahukan kalau kami bisa menggunakan bus tersebut secara gratis. Kalaupun nanti ditanya-tanya kondektur, kami cukup memperlihatkan kartu nama hotel kami sebagai tanda kalau kami memang jemaah umroh dan menginap di hotel tersebut.
Kartu nama hotel
Sayangnya, aturan ini hanya berlaku selama beberapa hari. Setelah beberapa hari memanfaatkan kartu nama ....
“La la la ...” tolak kondektur bus usai kami memperlihatkan kartu nama hotel, sebelum naik ke bus seperti biasanya.
Saat itu, saya bersama beberapa orang teman hendak pergi ke Haram. Namun, kartu kami ditolak dan terpaksa kami merogoh kocek. Tak ada pilihan lagi, apalagi kami harus segera tiba di Masjidil Haram. Jika kami terlambat, banyak pintu masuk ke masjid yang sudah ditutup sehingga kami harus mencari jalan lain. Ini akan merepotkan dan sangat berpotensial membuat kami nyasar jika mengambil arah atau masuk melalui pintu yang berbeda.
Alhamdulillah, saya punya lembaran 10 riyal. Saya pun membayarnya dan si kondektur hanya mengembalikan 1 riyal. Padahal, seharusnya 1.95 riyal. Saya sudah memberitahukan kalau kembaliannya kurang, tetapi si kondektur cuek beibeh dan tetap sibuk menagih penumpang yang lain. Entah memang beneran gak peduli atau gak ngerti saya ngomong apa. Lha, saya mintanya pakai bahasa Indonesia, hehehe.
![]() |
Tiket bus dengan tarif 8,05 Riyal untuk sekali PP |
Di tengah kebingungan kami yang mendadak ditagih bayaran, salah seorang jemaah yang sudah sepuh kemudian mengeluarkan uang rupiahnya, 100 ribu. Mulanya si kondektur menolak dan meminta uang pas, tetapi karena hanya itu uang beliau, si kondektur malah mengembalikan uangnya dan si Bapak diperbolehkan naik bus gratis. Masya Allah.
Karena ternyata kebijakan “naik bus pakai kartu” hanya berlaku selama beberapa hari, kami pun komplain ke pihak travel. Soalnya, harga tiket busnya lumayan yakni 8.05 riyal, sedangkan setiap hari kami pasti ke Haram. Bahkan, tidak hanya sekali, bisa berkali-kali dalam sehari. Kebayang kan berapa riyal yang harus kami keluarkan sekadar untuk transport.
Baca Juga: 5 Bahan Alami Ini Siap Atasi Kaki Kusam
Setelah bermufakat dengan pihak hotel dan pihak bus, kami pun diberikan tiket bus yang bisa dipakai berulang-ulang. Tak lupa, pihak travel berulang kali meminta maaf atas ketidaknyamanan kami. Mereka meminta kami memaklumi karena memang kebijakan aturan di Saudi seringkali berubah-ubah dalam waktu singkat. Untuk itu, kami diminta banyak-banyak bersabar dan terus berdoa agar senantiasa dimudahkan selama berada di Tanah Haram dan menjalankan ibadah umroh ini.
Setelah beberapa lama kami nyaman menggunakan tiket berulang kali pakai, pihak bus kembali bikin aturan baru. Kali ini, tiket-tiket kami tidak bisa digunakan. Kami harus membeli tiket langsung dari kondektur yang setelahnya langsung disobek sehingga tidak dapat digunakan lagi.
Saat itulah, saya mengadu ke ustaz pembimbing kami yang masih berada di hotel. Soalnya, kami tidak diperbolehkan naik ke bus meski masing-masing sudah memegang tiket. Ustaz pun turun tangan langsung dan entah beliau ngobrol apa dengan si kondektur soalnya pakai bahasa Arab, sih. Jadi, kita gak ngerti. Kayaknya sih berdebat, tapi kok ya semuanya terlihat senyum-senyum. Lha, kalau di Indonesia aroma-aromanya sudah baku hantam ini mah, hehehe.
“Naik miki, masih bisaji gratis, tetapi berikutnya harus membayar. Nantilah, kami carikan solusi.” Usai berdebat "dingin" (gak ada yang baku hantam soalnya, hehehe), ustaz menyuruh kami naik ke bus.
Kami pun bergegas naik, sebelum si kondektur berubah pikiran. Hufh, lega rasanya saat tubuh kami duduk di bangku empuk di dalam bus yang tak lama kemudian melaju kencang menuju Haram. Jarak dari hotel menuju Masjidil Haram memakan waktu sekitar 5 menit dan setelahnya kami masih harus berjalan jauh menyusuri pelataran Haram yang sangat luas.
Qadarallah, beberapa hari kemudian, saya kemudian haid. Untuk beberapa saat, saya tidak ke Haram. Namun, dari cerita suami dan juga teman-teman, ada yang bisa naik bus gratis dan ada yang tetap harus membayar. Benar-benar gak jelas aturannya.
Uniknya, tepat di malam ke-27, malam yang diyakini banyak ulama sebagai malam Lailatul Qadar, bus Sapto dibatasi untuk beroperasi. Katanya, hal ini sengaja dilakukan karena saking banyaknya jemaah yang hendak ke Haram, sementara Haram sendiri sudah sangat membludak. Akhirnya, sebagian jemaah ada yang berjalan kaki menuju Haram.
Masya Allah, malam itu memang sangat hiruk-pikuk. Dari kamar kami yang terletak di lantai 1, terdengar dengan jelas suara sirene mobil patroli polisi lengkap dengan instruksi-instruksinya yang sepertinya sangat tegas menertibkan kendaraan. Halte bus pun terlihat sangat ramai oleh jemaah yang ingin ke Haram, sementara bus-bus Saptco yang melintas seolah tidak mengacuhkan mereka. Bus melaju dengan kencang tanpa berhenti untuk mengambil penumpang seperti biasanya.
Masya Allah, benar-benar dibutuhkan effort yang sangat kuat "hanya" demi bisa beribadah. Tak heran bila pahala yang dijanjikan juga sangat besar, lebih baik dai 1000 bulan. Masya Allah.
![]() |
Para jemaah menunggu bus Saptco |
Sementara dari jendela kamar, saya hanya bisa menangis dan mencoba ikhlas menerima ketetapan dari Allah Subhanhu wa Ta'ala. Bagaimanapun, ini adalah bagian dari takdir-Nya yang tak bisa saya tolak. Saya pun hanya bisa pasrah menerima dan menjalaninya. Semoga keikhlasan ini juga mendapatkan bagian yang layak dari Sang Khaliq. Aamiin.
Alhamdulillah, saat tiba Hari Idulfitri, saya dan suami yang akan ke Haram tidak dimintai pembayaran saat akan naik bus. Sepertinya, kebijakan kembali ke peraturan awal yakni gratis karena untuk beberapa hari kemudian, kami tetap bisa naik bus gratis ke Masjidil Haram.
Baca Juga: 9 Tips Wisata Luar Negeri Hemat
Apa pun itu, kata ustaz, pengeluaran uang selama di sana sebaiknya kami niatkan untuk sedekah. Hal ini mengingat besarnya keutamaan yang dimiliki Haramain.
Rasanya, semua kenangan yang terukir di Tanah Haram hanya menyisakan satu rasa. Rasa RINDU. Semoga kita semua diberikan rezeki untuk bisa kembali mendapatkan panggilan-Nya, berkunjung ke Baitullah. Aamiin ya, Rabbal Alamin.
***































