Alhamdulillah, kembali kita diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan, serta pahala yang berlipat ganda. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, yang di dalamnya terdapat satu malam yang sangat istimewa, yakni malam Lailatul Qadar. Satu malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari 1000 (seribu) bulan. Masya Allah, semoga kita diberi nikmat untuk bertemu malam tersebut. Aamiin ya Rabbal A'lamin.
Ada yang ingat lagu anak-anak di atas? Yes, lagu di atas judulnya "Ayo Menabung" ciptaan Ibu Titiek Puspa. Bagi saya lagu "Ayo Menabung" itu memberi kesan tersendiri bagi saya saat itu, seorang anak kecil dengan segudang mimpi dan keinginan. Sejak kecil, saya memang sudah memiliki banyak mimpi. Salah satu mimpiku adalah bisa keliling dunia. Dan, karena kedua orang tuaku bukan orang kaya, maka menabung adalah solusinya. Karenanya, dari lagu di atas, saya paling terkesan dengan kalimat "dari kecil kita mulai menabung" dan "mau keliling dunia ada uangnya.".
Kecil-Kecil Sudah Menabung
Saya sudah mengenal tabungan sejak SD. Bukan menabung lewat celengan ayam, lho, ya. Alhamdulillah, kedua orang tuaku care banget masalah ini. Mereka yang mengajarkanku membuka tabungan di sebuah bank yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan orang tua memilih bank ini, karena dekat dari rumah. Jadi, transaksi-transaksi yang akan dilakukan bisa lebih mudah, cepat, dan praktis. Pertama kali membuka rekening, saya ditemani Mama, selanjutnya semua kulakukan sendiri. Alhamdulillah, sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri. Apalagi, sebagai anak sulung, saya selalu ingin menunjukkan kepada Bapak dan Mama kalau anaknya ini bisa diandalkan.
Saat itu, keren banget rasanya punya buku tabungan sendiri. Ada yang kenal buku tabungan di atas? Namanya TABANAS (Tabungan Pembangunan Nasional). Buku tabungan ini dikeluarkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Namun, pembukaan tabungan serta transaksi menabung maupun penarikan uang bisa dilakukan di kantor pos. Btw, ada yang pernah punya buku tabungan jadul ini, gak? Terkadang kalau lagi iseng, saya sering memamerkan buku tabungan tersebut ke teman-teman. Biasanya, teman-temanku mendadak ngiler dan pengen punya juga. Namun, ketika tahu kalau sejumlah uang yang tertera di sana adalah kumpulan uang jajanku, mereka langsung melipir.
"Aih, mendingan duitnya buat jajan."
Hu hu hu
Qadarallah, uang tabunganku tersebut tidak bisa mewujudkan cita-citaku keliling dunia. Kondisi Bapak yang saat itu sakit-sakitan, membuat seluruh harta dan tabungan terkuras habis untuk biaya pengobatan beliau. Dan, di tahun 1991, Bapak pun meninggalkan kami untuk selamanya.
Saya kembali menabung ketika duduk di bangku kuliah. Waktu itu, saya sudah aktif menulis dan tentu saja sudah mendapatkan honor menulis. Meski tak banyak, tetapi lumayanlah buat anak kuliahan saat itu.
Satu kesyukuranku, sejak kecil orang tua selalu mengajarkanku untuk menabung. Sekecil apa pun uang yang kumiliki, selalu ada yang dianjurkan untuk ditabung. Kebiasaan ini yang saya teruskan ke anak-anak. Mengajarkan mereka menabung dan senantiasa berhemat dalam segala hal.
Kisah Hijrahku
Saya memutuskan mengenakan hijab secara kaffah ketika berada di semester akhir. Boleh dibilang, kisah hijrahku lumayan menguras air mata jika diingat. Tak seorang pun dari keluargaku yang mendukung keputusan hijrahku tersebut. Bahkan, saya sempat akan dibawa ke "orang pintar" gara-gara keluargaku khawatir saya terkena hipnotis aliran sesat.
Saya memaklumi, sikap yang diambil keluargaku. Tentu saja, keputusanku tersebut diambil di "waktu yang tidak tepat". Waktu itu, saya tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan kuliahku dan kebetulan sudah ada beberapa tawaran pekerjaan menarik datang menghampiriku berkat koneksi keluarga dan teman.
Di tengah keterbatasan ekonomi karena sang nakhoda keluarga telah pergi untuk selamanya, tentu saja harapan keluarga bergantung padaku. Tak ada yang salah dengan semua itu. Sayangnya, tawaran pekerjaan yang datang tidak sesuai dengan konsep syariat sebagaimana yang telah saya pelajari dalam pengajian dan tarbiyah yang saya ikuti.
"Pekerjaan A mengharuskanku terlibat dengan riba"
"Pekerjaan B mengharuskanku membuka jilbab, sehelai kain yang telah kuputuskan untuk menjadi penutup aurat dan bukti ketaatanku kepada perintah Rabbku."
Kedua tawaran pekerjaan itu kuanggap sebagai ujian atas jalan yang telah saya pilih. Ujian atas keimananku. Ujian untuk mengetahui sejauh mana ke-istiqomahanku berhijrah.
Dengan mantap saya menolak semua tawaran waktu itu. Tentu saja, keluargaku semakin marah. Sebelumnya, keputusanku berhijab syar'i telah ditentang habis-habisan, tetapi saya nekad. Kini, saya kembali "menantang" dengan menolak pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Pekerjaan yang tidak saja akan memberiku materi yang tidak sedikit, tetapi juga akan mendongkrak posisiku di masyarakat.
Alhamdulillah, saya mampu melewati semua itu. Kini, semuanya menjadi kenangan dan semoga semua ujian tersebut menjadi amalan shalih dan penggugur dosa-dosaku selama ini.
Lalu, apa hubungannya dengan tabungan? Jadi begini. Yang namanya hijrah, pastinya kita ingin total mengislamkan semua aspek kehidupan, termasuk dengan urusan tabungan. Qadarallah, sampai saat ini saya masih berurusan dengan bank konvensional yang notabene di dalamnya masih bergerak secara konvensional.
Inginku, satu hari nanti, saya bisa kaffah berhijrah. Saat ini saya mempunyai 3 rekening tabungan, dua masih di bank konvensional dan satu sudah di bank syariah. Mudah-mudahan, saat pulang kampung nanti, saya bisa segera mengurus semuanya agar nantinya tabunganku juga sudah berhijrah.
Alhamdulillah, puasa pertama di bulan Ramadhan tahun 2019 ini bisa kami lalui di Bangi-Kajang Negeri Selangor kembali. Dua kota yang saling berdekatan ini mempunyai banyak kenangan indah dalam memoriku. Di sinilah, kota tempat tinggalku ketika pertama kali menjejakkan kaki di tanah Melayu, Malaysia pada tahun 2011 lalu.
Ibu rumah tangga yang suka menulis dan mengedit tulisan. Saat ini telah menghasilkan beragam tulisan, baik berupa buku, artikel, pesanan tulisan (ghost writer), maupun editing.
Informasi selanjutnya bisa menghubungi email: haeriahsyamsuddin@gmail.com.
Selamat menikmati sajian di blog ini. Semoga suka.